Minggu, 07 Agustus 2011

seven people bakery


“wah.. ini menakjubkan!” seru Tania girang. Dia membawa seloyang cupcake rasa blueberry. “hemm….” Katanya menghirup aroma cupcake itu lagi.
            “percobaan mu sukses juga !” Felis mencicipi satu. ”enak!!” lannjutnya tersenyum berjalan mendekati Lee.
Diana, July dan Claire ikut mencicipi. Mereka begitu menyukainya. Semua tersenyum dalam kenikmatan kue manis itu. July hanya bersungut- sungut.
            ”kita pasti kebanjiran pesanan!” ujar July percaya diri. Semuanya mengangguk dan tersenyum. Dia memperhatikan Lee yang dari tadi duduk sambil menghitung pemasukkan dan pengeluaran. Dia sangat sibuk. Persentase keuntungan dan pelanggan tiap bulan adalah tugas yang sangat penting baginya.
            ”hei Lee! Bagaiman menurutmu?” Felis duduk di sebelah Lee yang terlihat tak menggubris kelima temannya itu.
            ”sepertinya bagus” jawabnya singkat. Lee tak melihat Felis yang hampir menyuapinya secuil cupcake itu.
            ”coba ini..” pinta Felis pada Lee membuka mulut. Tapi Lee langsung mengambil secuil cupcake itu agar tak usah disuapi Felis.
            ”yah.. pasti pelanggan senang” puji Lee.
Keadaan jadi sunyi.
Lee tak pernah bersikap menyenangkan lagi sejak saat itu. Sejak dia memutuskan membangun butik kue ini.
            “kau telah mencatat resepnya kan, tania?” diana mencoba memecahkan keheningan
            “tentu!” jawab tania cepat “tapi kelihatannya tak menarik..” tania memperhatikan cupcake yang ada di dalam loyang silver. Warnanya agak keungu- unguan, sedikit gelap karena ruangan ini tertutup rapat.
            “karena itu belum dihias!” diana melihat raut wajah tania yang lesu “urusan itu, serahkan saja pada ku!”
            Kata- kata diana membuat Tania tersenyum. Bagai sebuah karya yang dihargai. Claire dan July saling berpandangan. July sedikit terlihat bangga pada diana.
            Memang, dalam hal menghias, diana lah yang paling diandalkan. Diana selalu punya ide- ide kreatif. Hobi menggambar Diana rupanya membawa berkah.
            “kalian harus menyisakannya untuk ku!” tiba-tiba  membuka pintu dapur. Dia baru selesai mengantar pesanan.
            “kau bahkan dapat bagian yang terbanyak!!” celetuk Claire mendekati Shan. Semua tertawa karena ucapan Claire.
            “apa kata mereka?” lee menyandar di tembok membuka tirai sedikit lebar. Membiarkan sinar matahari menyeruak menerjang.
Shan rupanya tak mengerti. Dia mengangkat bahunya “mereka?”
            “shan, Pelanggan nya?” felis menjelaskan “apa kata mereka hari ini?”
            “oh...” shan mengangguk mengerti “yah, seperti biasa. Mereka minta kuenya lebih pagi diantar” kata shan tersenyum lugu. Dia tahu ini salahnya, karena pagi ini Shan bangun kesiangan.
            “haha!” July menepuk pundak shan lumayan keras.
            “sakit, bodoh..!” shan balik memukul July.
            Mereka tertawa lagi. melihat kekocakan July dan shan.
            “apa kita tak membuka toko?” Lee membuat shan dan July berhenti bergulat.
            “oh! Ya tuhan!! Sudah siang!! Ayo cepatt!!!” pekik Felis berjalan ke depan.
            Seven people bakery telah berdiri selama satu tahun terakhir ini. Mereka membangun ini di sebuah rumah yang telah mereka sewa. Rumah ini cukup strategis, pinggir jalan dan berada di tengah- tengah kota. Mereka mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, dan entah bagaimana mereka bisa berhasil menyewa tempat ini. Namun, tanpa bakat dan kekompakan mereka, ini tentu tak kan jadi apa- apa.
            Di mulai dari Tania yang begitu mengerti detail- detail rasa, kelembutan dan kelembapan tekstur kue. Lee yang jeli dengan taktik mencari sasaran pelanggan. Dengan July yang mendesain eksterior toko bersama Claire yang modis di interior toko. Shan yang selalu diandalakan mengantar pesanan, hampir seluruh pelosok di kota ini dia tahu. Felis yang memasang iklan dan mengolah warna- warna kue sesuai trend. Dan ditambah Diana yang menghias lekuk- demi lekuk kue- kue dan selalu di banjiri pesanan kue Tart untuk ulang tahun.
            Masalah untung, rugi. Mereka tak terlalu mempermasalahkannya. Karena untung bukan lah tujuan mereka. Membangun kebersamaan yang makin dan makin erat lah harta paling berharga. Hingga rugi tak terasa asal mereka masih bersama.
            “apa kalian punya karya baru?” mrs. Antony yang pagi itu datang terawal. Dia pemilik rumah ini, dia sangat ramah sebagai pemilik rumah ini dan sebagai tetangga yang punya rumah makan di sebelah.
            “kau bisa tanya Tania” felis memasukka kue- kue itu ke dalam kantung belanjaan mrs. Antony. “apa lagi?” tanya felis. Hari ini dia yang menjadi kasir.
            “ku kira kalian punya banyak kue untuk hari ini” senyum mrs. Antony terpancar saat Diana masuk dari dapur. Terlihat segar karena telah mandi.
            “ada apa memangnya?” tanya diana spontan.
            “anak ku, dia hari ini pulang” kata mrs. Antony masih tersenyum. Mrs. Antony memang wanita yang murah senyum, tapi hari ini terlalu banyak.
            Diana dan Felis bingung. Mereka mengangguk. Pasti anaknya orang yang doyan makan! Buktinya mrs. Antony akan membeli banyak kue hari ini, fikir Felis konyol.
            “oh..” diana mengangguk. Seolah- olah mengerti maksud mrs. Antony. Sesekali berfikir, apa hubungan kedatangan anak nya dengan kue-kue ini?
            “ya sudah, aku pulang dulu. Terimaksih..” kata mrs. Antony pergi setelah membayar.
            Diana mendekati meja kasir. Felis melihat kalender dan merobek tanggal kemarin. Ini hari minggu.
            “nanti sore kau pulang?” felis menyobek kertas itu kecil- kecil. Memainkannya. Beberapa robekan terbang di udara dan jatuh ke lantai.
            “entahlah..” diana menggeleng. “Austin mengajak ku ke rumahnya. Ibunya yang meminta” kata diana.
            “kalian berdua memang sangat serasi! Orang tua kalian sudah sama-sama setuju. Kalian hanya tunggu kau lulus sekolah1 dan setelah itu..” kata felis semangat. “menikah!!”
            “kau fikir itu gampang!” celetuk diana tak setuju “umur ku mungkin akan jadi 19 tahun kurang saat aku lulus nanti. Dan itu usia yang belum pantas untuk menikah!” kata Diana tak setuju
            “eh? Ayolah..kau pasti akan bahagia bersama Austin. Dia begitu mencintai mu! Kalian sudah bersama dari waktu kau kelas 3 SMP!! Lalu kurang apa lagi?” felis masih berceloteh.
            Diana tersenyum mendengar celoteh-celotehan felis. Tak bisa dipungkiri, begitulah felis. Sok tahu dan berlagak penasihat pra pernikahan.
            “kalian sedang bicarakan apa sih?” tania masih menggosok-gosokkan handuk ke kepalanya. “ayo makan!”
            Diana dan felis saling berpandangan. Mereka berjalan bersama ke ruang makan. Di ruang makan semuanya telah berkumpul rupanya. Hampir rambut mereka masih basah, hanya rambut shan yang terlihat kering walau baru mandi. Rambut pendek. Itu sangat praktis.
            “this is it! nasi goreng minggu pagi ala Tania Queen !!” teriak July berlagak seperti Chef perempuan seksi.jelas tawa langsung menyembur di ruang makan.
            “kau juga pantas July!” kata Shan mengambil saus sambal pedas di meja. “kau juga lebih mirip!”
            “oh.. tidak bisa” sergah July tak terima.
            “cepat makan atau bagian kalian akan ku santap” kata lee tiba-tiba. “claire, tolong telur nya” pinta Lee.
            “baik adik kecil...” July, shan, dan Felis mengangguk bersama. Mereka brtingkah bagai anak sekolah dasar, memperlihatkan wajah yang terlugu yang mereka miliki.
            Tentang adik kecil tadi. Baiklah, Lee yang paling muda di sini. Di antara mereka ber tujuh. Lee yang terlahir paling akhir dari mereka. Tapi umur bukan berarti tingkat kedewasaan. Karena Felis bahkan lebih tua dari pada Diana, Shan paling tua, dan Claire.. si seksi ini juga punya tahun kelahiran sekitar dua tahun lebih awal dari Lee.
            Jadi urutannya adalah, Shan, Fellis, Claire, Diana, Tania, July, dan Lee. Mereka kini sedang duduk di kelas 3 Sekolah Menengah kejuruan. Mereka satu kelas di teknik informatika software programming. Hanya Shan yang tidak melanjutkan naik ke kelas 2 waktu itu. Shan juga jarang masuk waktu kelas 1. Shan kini tak punya orang tua lagi, dia hanya punya seorang saudara perempuan yang telah berkerja dan baru saja berkeluarga.
            Untungnya SevenPeople telah menyewa tempat ini. Mereka menginap disini semuanya. Setiap hari minggu mereka baru pulang ke rumah masing-masing. Keuntungan dari toko kue ini mereka bayarkan ke uang sekolah. Jadi dengan begitu, orang tua mereka merasa bangga.
            “Lee..” kata Shan tiba-tiba. Mereka masih mengunyah nasi goring buatan Tania. Lee menatap Shan. “apa kau tak mengunjungi Bibi mu?” Tanya Shan.
            Lee mengambil air putih yang telah disiapkan. Kepalanya sedikit menggeleng “tidak. Kenapa?” Tanya Lee balik. “kau boleh main hari ini” senyumnya.
            “eh?” shan tak percaya “baiklah kalau begitu. Hari ini aku ada janji dengan kakakku. Kau mau jaga toko kan?”
            Lee terdiam. “baiklah..” katanya mengangguk.
            “bagaimana kalau kita tutup hari ini?” kata Diana. “kau ke rumah ku saja Lee?” tawar Diana pada Lee.
            Lee tersenyum. Lalu kembali mengunyah. “tidak perlu. Aku ingin disini saja.” Tolaknya.
            Mereka kembali konsentrasi pada makanan mereka masing-masing. Diana terlihat memperhatikan lee. July masih sedikit cengengesan melihat Fellis yang kurus kering.
            “tania, kau harusnya membagi sedkit daging mu pada fellis” ejek July. Mereka langsung tertawa.
            “setelah makan, kau yang cuci piring!” kata tania memerintah pada july. Mungkin kesal karena dari tadi July selalu mengejeknya.
            “oh..” July meringis “kau saja!” timpalnya.
            “aku tak mau. Aku yang masak, jadi kau yang cuci piring!”
            “kalian ini!” Claire akhirnya selesai makan. “biar aku saja!”
            Mereka tersenyum girang. “TERIMAKASIHH, !!!” kata mereka serempak.
            “aku pergi dulu. Kata Shan mengendarai motor kesayangannya. Suara knalpot yang menggetarkan kaca-kaca toko membuat Lee tertawa.
            “pergilah. Dan hati-hati” senyum Lee. “salam untuk kakak mu”
            “yah..” angguk Shan lalu pergi.
            Lee masuk ke toko. Menuju meja tamu, ternyata Diana telah duduk di sana. Lee membanting badannya duduk ke kursi yang terbuat dari kayu berwarna krem.
            “kata mu kau mau pulang ke rumah?” Lee menyentuh bagian pinggiran meja yang bulat di depannya.
            “agustin mengajak ku ke rumahnya” tutur Diana. Membayangkan agustin yang sebentar lagi menjemputnya. “kau mau ikut?”
            Lee tertawa. Diana memang tak kan tega meninggalkan lee sendirian, tapi tak mungkin Lee mengacaukan kencan Diana. “mungkin lebih baik disini” tolak Lee. Agustin mungkin tak kan marah, karena mobilnya masih mampu menampung. Tapi lee tetap tak kan mau.
            “baiklah” diana mengerti. Suara mobil Ford Agustin pun mendekat. Diana berdiri dari bangkunya. Seoarang pembeli berpapasan dengan mereka di pintu. Seorang lelaki tinggi dengan kaca mata berframe hitam. Diana berhenti saat agustin membuka pintu mobilnya. Agustin berjalan mendekati Diana dan Lee di depan toko. Dia mengenakan t-shirt putih dengan jumper hijau tua.
            “hai Lee Coltrain!” sapa agustin menjabat tangan lee. Lalu merangkul Diana lembut. Menyeka rambut Diana yang menjuntai di dahi. “kau siap?” tanyanya pada Diana.
            Diana tersenyum dan mengangguk. “Lee, aku mungkin pulang sore nanti” kata Diana mulai berjalan bersama Agustin ke mobil.
            “hati-hati” kata lee pada mereka. Agustin dan Diana masuk ke dalam mobil berwarna merah tua itu. Diana duduk di kursi penumpang di samping Agustin Blake. Lalu mulai menjauh dari SevenPeople Bakery.
            Sepertinya Pembeli itu masih melihat-lihat kue-kue. Dia tak terlihat terburu-buru. Lee masuk ke toko santai. Kepalanya sedikit menengadah karena pembeli itu lebih tinggi darinya.
            “kau mau yang mana?” kata Lee berjalan ke belakang etalase dan berdiri di belakang mesin kasir. “hari ini tak ada cake, kami harusnya libur hari minggu” tutur Lee. Dia melihat kalender yang telah di sobek.
            “aku tak membeli kue” kata lelaki yang masih mondar-mandir. Dia memperhatikan sekeliling ruangan ini. Dia bercacak pinggang. Lee tau lelaki ini tak mungkin membeli roti untuk hari ini. Tania belum membuat bluberry cupcake. Lee sadar sekarang, hari minggu harusnya ia tutup saja.
            “baiklah” kata Lee mengangguk. “kau bisa pergi. Aku akan tutup” kata lee datar.
            “yah, harusnya begitu” lelaki itu kini mengangguk. Dia membalik badannya menghadap Lee. Lalu tersenyum. “kalian yang membangun ini?”
            Lee tak menggubris basa-basi lelaki ini. Dia berjalan mendekati lelaki berkaca mata di depannya. “ku bilang, aku mau tutup!” kata Lee menatapnya.
            “wow..”kata lelaki itu. “baiklah, aku akan pergi” senyumnya. “tapi, sebaiknya kau tau kalau aku Jonnatan Antony” kata Jo mengenalkan diri.
            Jonnatan Antony? Masa bodo, fikir lee. Tapi. Antony? Dia pasti anak Mrs. Antony!
            “lalu?” kata Lee datar seolah-olah tak terpengaruh.
            “wah..wah..” Jo merunduk, memperhatikan Lee lekat-lekat. “apa kau si ‘lee’ ?” tanya Jo. Seolah-olah menghadapi seorang tokoh dongeng yang melagenda. “rupanya ini..” kata Jo tanpa menunggu jawaban dari lee.
            “ada apa kau kemari?” tanya Lee memundur kan dirinya. Melihat jarak mereka hanya beberapa centi meter. “aku mau pergi, jadi kau juga sebaiknya juga pergi” Lee ingat akan siapa orang yang di depannya. Jo antony, dia harus sedikit sopan. “maaf, bukan maksud ku kasar” lee membereskan kursi yang tadi di dudukinya dengan Diana.
            “ya. Aku tau maksud mu” Jo mendekati Lee. “mana yang lain?”
            Lee geram. Jelas-jelas dia telah mengusir Jo secara halus, apa lelaki ini bermuka tebal? Kakinya mendorong salah satu kaki kursi yang di pegangnya. “mereka pergi” jawab Lee datar. Harus bagaimana sekarang, lelaki di depannya adalah salah satu orang yang paling keras kepala. Satu sisi dia menghormati Jo karena bagaimanapun, ini rumah ibunya. Satu sisi dia ingin sendiri.
            “oh” angguk Jo. “berarti kau sendiri” lanjut Jo. Dia membantu lee menutup tirai-tirai tipis di kaca toko. Jo melihat Lee yang menahan kesal, Jo kini ingat kata-kata Ibunya. Lee memang aneh, tapi ini pasti bukan Lee sesungguhnya.
            “terimakasih” kata Lee membuat Jo sadar bahwa dirinya tengah memperhatikan wajah Lee. Lalu langsung terkesiap dan pipinya terlihat merona.
            “ummm...” gumam Jo “apa kau mau bantu aku?” kata Jo memandang Lee yakin. Membantu? Brengsek, pasti dia fikir aku takut padanya kalau aku menolak! Fikir Lee. Tapi, dia memang harus bersikap sebaik mungkin. Rasa sesal menyelimutinya. Andai pagi tadi dia juga keluar, pasti dia tak kan bertemu Jo aneh ini!
            “apa?” kata Lee mengalah
            “kunci rumah dan toko ini. Lalu ikut aku” kata Jo masih tersenyum. Matanya menyipit dan berbinar di balik kacamata itu. Jo senang bisa berbohong dengan baik, tapi dia tak boleh membuat Lee kesal. Mungkin bagus kalau membawanya ke tempat praktiknya.
            Lee mengikat rambutnya ke belakang. Dia menggunakan sandal santai dan memakai kemeja kotak-kotak. Hatinya masih kesal. Sial,sial,sial. Jo berjalan bersama Lee. Rumah Jo dan toko roti ini hanya kelang empat rumah. Jo memperlambat langkahnya ketika mereka sampai di depan rumahnya. Dia memperhatikan Lee yang merengut. Lalu sedikit tersenyum.
            “masuklah” Jo membuka pintu rumahnya. Dia memperhatikan Lee yang sedikit canggung. “ibu ku ada di dapur kok” kata Jo, apa karena Lee takut kalau Jo bertindak yang aneh?
            Lee akhirnya masuk mengikuti Jo yang berjalan di depannya. Jo menuju dapur bersama lee. Ibunya kaget saat melihat Lee di belakangnya. Kejutan besar, bagaimana bisa Lee ikut dengan anaknya? Apa penglihatannya salah, tapi Mrs. Antony langsung tersenyum. “hai lee?” sapa mrs. Antony.
            Lee tersenyum kaku. Lalu memandang Jo yang menatapnya. “apa yang akan aku bantu?”
            Mrs. Antony pun bingung pada Jo. Lee menatapnya lagi.
            “ikut aku” kata Jo mengajak Lee. Mereka kembali ke depan dan menaiki tangga. Sepertinya akan menuju ke kamar jo. Lee sedikit cemas, apa-apaan ini? Awas saja kalau Jo macam-macam!
            “tunggu dulu.” Kata Lee berhenti di ambang pintu kamar. Sedang apa lelaki ini? “mau apa kita disini?”
            Jo langsung tertawa meladak. “kau fikir kita mau apa?” kata Jo masih tertawa. “bantu aku menata kamar ku ini” pintanya.
            Lee berjalan mendekati Jo. “aku tak tahu, apa yang sebenarnya ada di fikiranmu. Tapi aku bukan orang bodoh, kau fikir ini lucu? Apa mau mu sebenarnya?1” desak Lee. Kamar ini sudah rapi. Jo hampir tersenyum, tapi tetap menahannya.
            “kau ingin tau apa inginku?” tanya Jo mantap. Menunggu Lee bereaksi. Dan Lee akhirnya mengangguk pelan dan ragu. “makan malamlah bersama ku nanti”
            Gila! Siapa dia seenaknya?!
            “eh?” lee sedikit kaget. “kurasa Tania akan masak banyak malam ini. Datanglah ke rumah jam 7 malam, kalau kau mau”
            Jo masih bergeming. Lee jelas baru saja menolak, “baiklah” kata Jo akhirnya. Dia memandang lee yang berbalik dan pulang ke rumahnya. Atau rumahku.
            Shan lagi-lagi mengernyit ketika dia mendengar suara operator kalau nomor yang anda tuju sedang tidang aktif atau berada di luar jangkauan. Dia hampir membanting handphonenya saat operator itu kembali mengatakan itu. Tapi untungnya Fellis mengambilnya “kita belum gajian” sindirnya.
            Tania masih memakai celemek. Dia baru keluar dari dapur. Menatap Fellis yang ketakutan karena Shan terlihat marah dan kesal. Shan akan tambah marah pasti. “sudahlah Shan, mungkin Diana memang sedang tak bisa dihubungi. Bagaimana dengan Jouly?” kata Tania mencoba membuat Shan tenang.
            “Jouly tak pulang, dia menginap di rumahnya sendiri” shan menarik nafas panjang “aku khawatir, tak biasanya diana begini” Shan mendengus sebal. “oh ya, yang paling terakhir keluar dari rumah kan diana. Mana Lee?” tanya Shan buru-buru berdiri beranjak ke kamar menemui Lee. Shan memandangi Lee dengan seksama. Lee rapi sekali, dia memakai jean abu-abu dengan t-shirt putih yang di lapisi kemeja bergaris abu-abu putih. “kau, mau kemana?”
            “eh? Aku.” Lee diam “tak kemana-mana. Ada apa?”
            Hampir Shan lupa. Shan memberinya isarat untuk ikut ke ruang nonton. “kau tahu Diana belum pulang hingga saat ini?” kata Shan sedikit membentak. Lee melihatnya heran. Lalu dia mengangkat bahunya.
            “tadi pagi dia bilang akan pulang malam. Jadi, mungkin sekarang Diana masih bersama Agustin” lee menjelaskan.
            “kau gila Lee!” pekik Fellis. “ini hampir jam tujuh malam!!” bentaknya menunduk jam dinding.
            “lalu?” kata Lee semberono. Seolah tak peduli walaupun hatinya bergemuruh.
            “bukankah kita punya peraturan kalau kita tak boleh keluar lewat jam tujuh malam!” jawab Fellis. Mereka bertiga menatap Tania yang mengendus-endus.
            “apa kalian mencium sesuatu?” kata Tania menyela pembicaraan “Ya Tuhan!! Masakan ku!!!” tania berlari ke dapur. Gosong.
            “ini masih hampir jam tujuh malam, Fellis” sergah Lee menggosok dahinya yang sakit. “lagipula Claire juga belum pulang”
            Tepat saat itu terdengar suara deruman mesin sepeda motor. Tak mungkin itu Jo! Pikir Lee. Mana mungkin Jo naik motor walau rumah mereka hanya selang beberapa rumah. Tapi itu tak mungkin juga Agustin dan Diana, mereka pasti naik mobil.
            “aku pulang!” teriak Claire mendekati mereka dengan senyuman lebar. Bibirnya merah merekah. Oh, pasti itu ciuman See You Honey, pikir Shan geli. “wah, aku belum telambat” katanya melihat jam dinding menunjukan pukul enam lewat tiga puluh dua menit.
            “yah, hampir” desis Fellis geram. “apa Diana menelepon mu?” tanyanya.
            “umm?” Claire tak mengerti. “tidak, memangnya kenapa?” matanya menatap Shan yang terlihat emosi. Lalu beralih menatap Lee.
            “dia belum pulang” jawab Shan cemas. “apa kita telepon orang tuanya saja?”
            “jangan!” teriak lee gusar. “pasti mereka akan khawatir dan marah”
            “lalu bagaimana? Kita hanya diam?!!” emosi Shan meledak-ledak.
            Lee memandangi mereka. “jangan buat Diana susah. Feeling ku mengatakan dia sebentar lagi pulang” Lee lesu melihat jam seolah-olah sangat senang berputar.
            “fellis, apa kau tau nomor telepon rumah Agustin?” tanya Claire mengeluarkan telepon selulernya.
            Fellis menggeleng. “kata Diana, itu privasi” matanya lesu. Dimana Diana Nichols sekarang? Fikir Fellis. Fellis berjalan ke kamar dan mencari sesuatu di kamar Diana. Berharap mungkin ada petunjuk tentang keberadaan Diana dan Agustin. Fellis melihat kalender dan tanggal hari ini yang di lingkari dengan kata ‘ulang tahun ke 3 mum Diana and Dad Agustin’. Astaga!! “lee! Shan! Claire!” teriak fellis tak percaya.
            Mereka bertiga berlari ke kamar Diana. Fellis memegang kalender meja belajar Diana. “hari ini, hari ulang tahun Agustin dan Diana!”
            Shan melongo. Yah, agustin dan Diana telah berpacaran selama tiga tahun. Tepat hari ini. “memangnya kenapa?” tanya Shan tak mengerti.
            “apa maksudmu Diana dan agusin masih bersama sekarang?” kata Lee. Dia melihat sebuah foto tertengger di atas meja. Diana dan Agustin sedang tersenyum bersama, mereka cinta sejati tak terelakkan.
            “kalian ini, mungkin saja Agustin lupa dan Diana sedang..” kata Claire memutuskan. Tapi kata-katanya terpotong saat Lee melotot dan berlari keluar. Tidak mungkin, Diana jangan bodoh!
            “kau mau kemana!” Shan menghentikan Lee yang memakai Helm. “jawab aku!”
            “kalian tunggu disini saja. Aku akan cari Diana, tolong jangan beri tahu orang tuanya dulu” Lee berjalan ke garasi dan menaiki motor kesayangannya.
            “Lee, tapi..” Claire mendesah geram. “apa sebaiknya kita tunggu saja kabar dari Diana?”
            Fellis, Shan, dan Claire menatap Lee yang akan pergi. Tania yang selesai memasak menyusul mereka. “hati-hati” dukung Tania tersenyum.
            Lee pun pergi.
            Jalanan masih basah. Rupanya daerah rumah Diana dan keluarganya baru diguyur hujan. Lee hati-hati mengintip ke dalam rumah Diana dan tak melihat tanda-tanda Diana dari sana. Lee ingat letak kamar Diana. Lalu berjalan ke tembok sisi kanan rumah, Lee mengintip ke dalam. Kosong. Untung ini malam hari, fikir Lee. Kalau aku sampai ketahuan, bisa-bisa aku dikira pencuri. Lee berharap motornya yang berwarna hitam dapat tersamarkan oleh kegelapan, dia telah memarkirnya sedikit jauh dri rumah Diana. Lee mencongkel jendela dan masuk ke dalam kamar. ”sial!” umpatnya ketika telapak kanannya berdarah. Diana sering memasang pecahan kaca di pinggir jendela untuk berjaga-jaga kalau ada penjahat, tapi yang kena malah Lee.
            Suara gemuruh langit membuat Lee trkejut. Rupanya hujan turun lagi. Tapi diana tak ada. Dimana kau?
            Lee akhirnya kembali dengan tangan kosong. Lee berharap Diana baik-baik saja. Agustin memang dewasa dan bertanggung jawab, tapi kalau Diana sedsng kesal. Semua hanya pasrah.
            Tangan Lee masuk ke saku jeansnya. Meraih telepon seluler, menelepon Shan. Tepat sekali, Shan saat itu menelepon.
            ”kau dimana?” tanya Shan sedikit berbisik.
            Lee belum menjawab. ”Diana tak ada di rumahnya” jawab Lee kecewa. Mungkin sekarang Shan akan membentak dan mengumpat pada Lee.
            ”pulanglah” kata Shan datar. ”diana telah pulang, tapi sesuatu telah terjadi. Setelah kau pulang, akan ku ceritakan” shan mematikan telepon.
            Lee langsung pulang.
            Diana tampak lesu. Matanya sayu dan sedikit berkantung. Diana habis menangis. Shan duduk di samping Diana. Dimeja itu ada Claire, Tania, Shan, Diana dan Jo. Ternyata Jo datang tepat waktu, jam tujuh malam. Tapi Lee keluar mencari Diana.
            Lee datang dan memasukkan motornya ke garasi. Fikirannya masih tak tenang soal Diana. Apa yang terjadi dengannya?
            ”jadi kau Dokter muda?” tanya Shan mengunyah makanannya. ”kapan kau mulai praktik?”
            Jo tersenyum. ”mungkin senin besok”
            Diana memakan makanannya dengan lambat. Sangat lambat. ”apa kau tak enak badan?” tanya Jo lembut. Jelas Jo tak tahu apa yang terjadi pada Diana.
            ”aku baik-baik saja” jawab Diana.
            Claire berdiri untuk menuangkan air putih ke gelas Diana. Shan juga minta dituangkan. “terimaksih” kata shan.
            Fellis menatap pintu yang terbuka. “Lee. Kau sudah pulang?”
            Lee muncul dari balik pintu. Badannya basah kuyup. Tapi hatinya panas, getir. Diana memang punya maslah. Lee menghampiri mereka, dan sadar akan Jo. Jadi dia tela disini.
            ”kau dari mana?” tanya Jo. Matanya berbinar melihat Lee.
            Lee tak menjawab dan pergi ke kamar. Pakaian yang seharusnya ia kenakan malah basah. Lee mengganti pakaian dan bergabung dengan mereka.
            Jo hanya diam. Semua diam.
            ”Lee, ternyata feeling mu benar!” seru Fellis. ”kau tahu, saat kau baru saja pergi, Diana datang”
            Lee melihat Diana yang tertunuk menatap piring makannya. Diana tak makan, dia hanya mengaduk-aduk isi piringnya. ”kau naik apa?” tanya Lee pada Diana.
            Diana bergeming. Melamun. Hingga Shan menyenggol sikunya. ”ah? Aku..aku naik taksi” gumam Diana. Dia tak berani menatap Lee, takut kalau Le melihat mata bengkaknya. Tapi lee telah tahu.
”hei Lee, angan mu kenapa?” Claire panik. Spontan semuanya melihat ke arah Lee.
            ”ini?” tanya lee mengangkat tangan kananya. ”oh ini..ummm, kalian tahu kamar Diana sangat keren. Bodohnya aku lupa kalau dia memasang beling-beling itu” hibur Lee. Mereka tertawa. Walau telapak Lee sobek.
            Diana tiba-tiba meletakkan sendok da garpunya. Dia melihat ke arah Lee yang masih tersenyum. “apa yang kau lakukan?”
            “aku fikir lebih baik diam-diam masuk ke kamarmu. Jadi..” kata Lee. Mungkin Diana akan marah.
            ”tak seharusnya kau begitu” Diana berdiri menuju kamar. Raut mukanya seperti orang marah, tapi bukan karena Lee. Ia terbawa perasaannya.
            ”diana habiskan dulu mak..” pinta Tania.
            ”awas!!” Jo menangkapnya. Berhasil menangkap Diana.
            Diana pingsan.
            ”cepat bantu aku!”
            Mereka membopong Diana dan membawanya ke kamar Diana. Semuanya panik. Claire hampir tak kuat menahan air mata. Kau kenapa Diana? Batin Claire,
            ”aku akan pulang dan mengambil alat-alat ku” jo berlari pulang.
            Tentu saja Jo sangat membantu, bagaimanapun dia seorang dokter.
            “apa Diana baik-baik saja?” Tania masuk ke ruang nonton. Dia membawa gelas-gelas berisi the hangat.
            “dia baik-baik saja. Sepertinya diana sedang ada maslah. Depresi” kata Dokter Jo. Dia mengambil satu gelas teh.mengambil satu lagi untuk Lee.
            ”terimakasih” kata Lee gemetar. ”apa ini karena ku tadi? Aku hanya jujur. Demi Tuhan, aku tak ingin membuat Diana..”
            ”sudahlah Lee. Diana tak pernah marah padamu, walau kau memukulnya. Dia sedang terguncang karena masalah yang tak ada hubungannya dengan kita” Shan menghirup tehnya.
            ”apa ini karena Agustin?” tanya Tania.
            ”ya, yeah. Mungkin saja” angguk Fellis. Claire memeluk tubuhnya sendiri. Dia menyandar di sofa.
            “ku harap Agustin tahu itu” desis Claire.
Jo tampak berfikir. “apa dia pacar Diana?”
Semua serempak mengangguk.
“oh..” kata Jo mengerti. “begitu. Lalu apa yang terjadi dengan mereka? Apa yang agustin lakukan?”
”entahlah Mr. Antony, itu hanya dugaan kami” jawab Tania.
”biasakan panggil aku Jo” pintanya. ”aku memang lebih sedikit tua dari kalian, tapi umurku baru 21 tahun”
Fellis,Tania dan Claire membelalak. ”apa?! Kau..kau masih 21 satu tahun?”
Jo mengangguk pelan. ”memang kenapa?”
”seorang dokter berusia 21 tahun? Mustahil!” kata Claire tak percaya.
“apa kau mau lihat sertifikat kelahiran ku?” ledek Jo. Dia menatap Lee di sampingnya yang ikut tertawa. ”well, aku lulus SMA saat umur ku menginjak tujuh belas. Dan lagi, sekolah kedokteran ku menghabiskan empat tahun” detail Jo. Menghabiskan 4 tahun? Jo bahkan terlihat merasa empat tahun itu terlalu lama! Gila! Batin Tania.
            ”itu habat” puji Fellis. ”oh iya, aku lupa. Katamu, kau adaperlu dengan Lee” senyum Fellis menggoda Lee di depannya. ”apa itu?”
            Lee salah tingkah. Dia memasang wajah datar, tapi pipinya merona. ”eh, apa Diana telah sadar?” kata Lee mengalihkan topik. Membuat mereka tertawa.
            ”kau tahu Jo, Lee kami ini juga sama sepertimu. Dia lulus nanti saat usia 16 lewat 11 bulan” ledek Fellis. ”dia yan paling kecil”
            Kini giliran Jo yang membelalak. ”mana mungkin? Tapi, kau terlihat keras. Lebih keras dari merka” senyum terpancar di wajah Jo. Lee makin malu.
            ”aku akan lulus usia tujuh belas!” kata Lee tak terima.
            Mereka tertawa. ”kurang sebulan”
            Malam itu mereka menghabiskan dengan ngobrol hingga tengah malam. Jo sangat senang main kesini. Mereka semua langsung akrab. 
            ”wah” kata Jo melirik arloji di tangannya. ”sebaiknya aku pulang. Terimaksih atas makan malamnya. Oh iya, masakannya sangat enak” puji Jo. Berjalan ke depan.
            ”kapan-kapan, kau harus makan masakan ku yang lain” tawar Tania.
            Jo mengangguk. ”apa boleh?” tanya Jo pada Lee.
            Lee tersenyum masam. ”mungkin aku bisa memberimu diskon tiap porsinya” humor Lee. Semuanya tampak aneh, Lee berhumor?
            ”baiklah, semuanya. Selamat malam” kata Jo pergi menjauh.
            Senin pagi. Diana telah membaik dan kantung di matanya mulai memudar. Dia yang bangun paling pertama. Tenyata Lee dan Shan masih tidur di sampingnya. Merka punya dua kamar tidur, satu kamar pakaian, dan dua kamar mandi di lantai dua. Satu kamar terdiri dari Lee, Diana dan Shan. Satu kamar lagi terdiri dari Fellis, Jouly, Tania dan Claire. Kamar mereka semuanya luas. Jadi 4 tempat tidur dan empat meja belajar bisa masuk kedalam satu kamar. Ada sebuah kamar di tengah kedua kamar tidur, itu kamar pakaian yang terdiri dari tujuh lemari terpampang. Di situ ada meja setrika dan gantungan-gantungan pakaian.
            Mereka sangat menyukai rumah ini. Ini rumah yang hangat. Rumah yang seru. Suatu saat mereka harus membeli rumah ini, fikir mereka. Karena hampir tiap hari, rumah ini menyimpan banyak cerita. Senang sedih, suka duka, tawa tangis. Semuanya bagai album.
            ”kau sudah bangun rupanya” kata Shan mengerjapkan matanya. Shan berjalan ke tempat tidur Lee dengan seprai putih. ”bangun, hari ini kalian upacara kan?”
            Kalian? Yah, shan telah tak sekolah.
            Shan melihat Diana yang menyisir rambutnya yang setengah basah. ”kau tak perlu menulis surat. Jo semalam telah membuat surat keterangan sakit untuk mu”
            Diana mengernyit. ”simpan saja. Aku mau masuk, hari ini ada pelajaran sejarah dan biologi. Aku harus..”
            ”jangan keras kepala. atau kau mau aku ke rumah mu dan..” kata Lee bangun dari tidurnya.
            ”oke. Baiklah, kau menang Lee” diana tersenyum. Senyum khasnya. Senyum penuh kehangatan dan kelembutan. ”siap-siap aku akn membalasnya!” lalu diana melempar bantal guling pada Lee, sayangnya Lee menghindar.
            ”payah” teriak Lee. Dia melempar balik. ”wekkkkk” lee berlari ke kamar mandi.
            Pagi yang cerah, semalam hanya mimpi ternyata, fikir Shan senang karena Diana kembali ceria. ”aku juga mau mandi, kau siapkan saja amplopnya”
            “hati-hati” kata Diana. Fellis masih memasang tali sepatu. Tania telah duduk di belakang Lee, dia dibonceng Lee.
            “awas kalau kau berani menyerempet nenek tak berdosa” kata Tania memperingatkan Lee. Karena Tania jarang dibonceng Lee. Biasanya Jouly yang membonceng.
            “aku akan kembali dalam setengah jam. Kau tak apa kan?” tanya Shan. Shan mengantar Claire dan Fellis. Tubuh mereka semua kecil. Jadi muat di motor Shan.
            ”tenang saja” jawab Diana. ”kalian ingat kan, ini pelajaran Mr. Banning, kalian harus sabar”
            Mr. Banning adalah guru sejarah mereka yang amat sangat membosankan. Guru sejarah yang terlalu norak. Yang tidak peka terhadap cemoohan dan umpatan murid-muridnya.
            ”kami telah bawa headset” kata Fellis terkekeh. ”akan ku setel lagu yang paling ku suka, walau sampai panas”
            ”haha” mereka tertawa, ”ya sudah, kami berangkat” kata Lee mulai melaju.
            Upacara berlangsung khidmat hingga bendera itu telah sampai ke ujung tiang. Sesekali mereka mengobrol tapi langsung berhenti ketika Mr. Ryder menghampiri dengan membawa rotan kecil.
            ”wah, kaki ku kesemutan” kata Claire setelah selesai upacara. ”kalian duluan saja, aku mau ke toilet”
            Jouly bergabung dengan mereka. Dia berjalan merangkul Tania dan Fellis. ”apa ada berita terbaru?”
            Jouly telah tahu keadaan semalam. Claire pasti telah cerita di telepon. Di mulai dari Diana yang hilang, Lee yang menyusul dan kena jebakkan, kedatangan dokter muda anak Mrs. Antony, dan masalah Agustin dan Diana.
            ”kau lah yang harus cerita, kau mengapa tiba-tiba menginap?” tanya Lee. ”apa ada masalah?”
            ”untungnya tak ada, ada acara keluarga. Keluarga teman ayahku makan malam di rumah kami. Dan mereka mengenalkan ku dengan anak bungsu mereka” jawab Jouly datar. Mungkin jengkel dengan perasaannya sendiri, mungkin jengkel dengan ibunya yang mengatur siasat ini.
            ”keren. Apa kau tertarik?” tanya Fellis penasaran.
            ”andai saja iya” Jouly menggeleng. Mereka masuk dalam kelas dan duduk di bangku masing-masing. ”kenapa sih kita masih sekolah? Padahal kita tinggal menunggu pengumuman kelulusan!” protes Jouly.
            Benar. Karena hari ini mereka harusnya tak p erlu belajar lagi. Tapi seperti kata mereka, Mr. Banning orang yang taat peratuan. Orang sipil.
            Beberapa perempuan tean mereka sekelas terlihat cekikikan tertawa sambil mengobrol, mungkin tapatnya ngerumpi. Claire masuk kelas dan berpapasan dengan Beatrice ’si panas’.
            ”hai Claire, bagaimana kemarin?” sapa Beatrice. Claire tak terlalu menghiraukan, berjalan ke arah Tania, Fellis, Lee dan Jouly.
            “yah, begitulah” senyum Claire.
            Lee memperhatikan Beatrice mendekati mereka. Dada Beatrice bergejolak karena langkahnya. Seven people memberi mereka julukan ‘si panas’ atau ‘payudara besar’.
            “bagaimana dengan mu?” tanya Lee pada Beatrice setengah mengangkat alis. Beatrice memang panas, melihat tubuhnya saja lelaki pasti bergetar.
            “aku sangat baik, hari minggu kemarin memang menyenangkan” senyumnya lalu berlalu. Ia tak mau cari gara-gara dengan Lee, karena Lee suka mencium sembarangan dan memeluknya.
            ”dasar” umpat Jouly pelan. ”aku masih kesal kalau ingat dia pernah mengataiku sangat kasar lewat handphone. Dasar pengecut”
            Jouly pernah punya masalah dengan Beatrice karena masalah sepele. Jouly pernah salah mengirim pesan yang berisi gurauan. Dia mengirimnya ke Beatrice, padahal niatnya ingin mengirim ke Seb, teman Jouly.
            Mr. Banning masuk ke kelas mereka. Muka mereka terlihat kesal ketika Mr. Banning masuk dan duduk di meja guru. Dia memperlihatkan senyum termanisnya, sayangnya itu terlihat konyol.
            ”selamat pagi anak-anak” katanya. ”silakan berdo’a menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai” katnya dan anak anak mulai berdoa.
            Semoga orang ini cepat pergi, kata Tania berdoa. Fellis memasang headsetnya dan mulai menyetel lagu. Claire bermain game di bawah mejanya. Lee mengunyah permen karet rasa mentol dan Jouly cekikikan mengupdate statusnya.
            ”tak terasa kalian sebentar lagi akan mendengar pengumuan kelulusan. Saya sebagai guru, berharap kalian semua lulus dan berhasil. Tapi, kita kembali pada yang di atas” kata Mr. Banning tersenyum. ”Sephia, lulus nanti aku akan kemana?”
            Sephia tersenyum malu. ”saya mau ikut Casting Sir”
            Semua gaduh karena jawaban Sephia. Memang, kalau masalah akting dan bergaya di depan kamera, Sephia lah jagonya. ”ku kira kau pasti di terima di majalah ’kelinci’ itu” ledek seseorang samar.
            “tenag semuanya. Kalau kau, Rian?”
            ”saya mau melanjutkan kuliah di kampus kota ini” jawabnya.
            ”kalau kau Brian?”
            Hampir satu jam mereka semua ditanya satu persatu. Kini giliran Jouly, muka Jouly pucat. Karena dia belum mengambil keputusan. Tapi Lee menyemangatinya “kalau mereka tertawa sedikit saja, aku akan berdiri dan menghajar mereka.
            “saya telah ikut tes Sir, tapi saya berencana akan masuk kampus kota ini kalau gagal” jawab Jouly gugup. Pipinya terbakar karena malu. Anak-anak memandangnya.
            “tes apa?” tanya Emily dari depan. Dan sepertinya Mr. Banning pun ingin tahu. Lee, Tania, Claire dan Fellis juga bingung.
            “atlet tim nasional, renang” jawab Jouly. Semuanya bertepuk tangan, termasuk Mr. Banning. Jouly heran, dia mamandang Lee di belakangnya “ku rasa kau tak asnggup memukul mereka karena bertepuk tangan” bisiknya.
            “wow..” kata Mr. Banning. “inilah anak-anak, Hobby terkadang mencerminkan cita-cita. Benar begitu Jouly?” tanya Mr. Banning dan Jouly mengangguk bangga. “bagaimana dengan mu, Palmer?” tanya Banning pada Tania.
            Tania menggumam pelan. Dia ingin Lee berjanji kalau ada yang tertawa Tania ingin Lee menghajarnya, kalu perlu sampai mati. “aku yang akan menghajarnya” kata Jouly.
            “sebenarnya, hobby saya membaca Sir. Saya tak tahu kalau setiap masakan yang saya coba buat ternyata enak” Tania menahan air mata. Dia melihat Jouly, Fellis Claire. “dan saya..”
            Hening. Karena Tania Palmer masih menahan air mata.
            “dan?” tanya Banning.
            “saya akan jadi koki. Saya akan ikut program beasiswa” angguknya.
            Semuanya masih saling pandang. Jouly bersiap-siap menghajar, dan suara tepuk tangan yang malah terjadi. Tania tersipu malu.
            “wah..wah...” puji Banning. “ngomong-ngomong tentang beasiswa, bukannya di kelas ini ada yang menang tes beasiswa kuliah di Prancis?” tanya Banning melihat sekeliling. “mana Diana Nichols?” tanyanya lagi.
            “diana sakit Sir. Surat keterangannya di atas meja” jawab Fellis. Menunjuk sepucuk surat di atas meja.
            “oh..” katanya mengangguk-angguk. “sekarang kau”
            Fellis menoleh kebelakang. Tak ada siapa-siapa di belakangnya, karena Diana tak masuk. “saya Sir?” dan Mr. Banning mengangguk cepat. “yah kau, siapa lagi?”
            “ummm...” Fellis tersenyum percaya diri. “saya akan melanjutkan bisnis kami Sir”
            “bisnis?”
            “seven people bakery kami Sir” jelas Fellis.
            “oh,,ya..ya..toko roti kalian itu ya” katanya tertawa kecil. “apa kau yakin nak?”
            Semuanya tertawa. Fellis muram, bukankah ini hebat? Fikir Fellis. Lee berdiri, menghentikan kegaduhan. “jaga sikap kalian, atau aku harus!”
            Jouly berdeham. Menghentikan Lee yang hampir berjalan menghampiri Sammuel yang tertawa terbahak bahak. “tenang semuanya. Saya ingin tahu, kau kan kemana setelah lulus nanti, nona Coltrain?”
            Lee memandang Banning kesal. Banning selalu membela anak-anak yang harusnya dia keluarkan. Tapi percuma menggerutu, karena semuanya pasti mengejek kalau Lee diam dan menggeleng. “bagaimana kalau anda tanya Claire dulu. Saya tidak yakin kalau anda bertanya tentang saya, itu akan selesai dalam setengah jam”
            Dan memang begitu. Karena kalau bicara dengan Lee pasti akan makan waktu banyak, fikir Banning. “baiklah. Claire?”
            Claire menatap Fellis. Takut kalau akan ditertawakan sama seperti Fellis. Tapi dia akhirnya mencoba menjawab.
            “dia akan ikut audisi Sir. Sama seperti ku” seseorang menjawab, namun bukan Claire. Itu Hannia Scott. “iya kan Claire?” Claire mengangguk.
            “jadi kalian akan sama terjun ke dunia model?” tanya Banning mantap. “bagus kalau kalian yakin. Dan kini giliran mu Lee Coltrain. Ku harap, kau tak jadi anggota mafia atau pembu..”
            “tidak Mr. Banning” jawab Lee lantang. “aku akan meneruskan ke perguruan tinggi di luar negeri. Aku akan menunjukannya Sir” kata Lee arogan.
            Semua melongo. Lee akan keluar negeri dan bukan karena beasiswa. Itu mutlak dana sendiri. Semua terpana, hebat sekali.
            “yah, kau beruntung punya dua pasang orang tua” ledek Sammuel ingat saat akan di pukul Lee barusan.
            Muka Lee merah padam. Jouly tak menahannya lagi dan Lee lepas kendali. “katakan sekali lagi itu padaku, busuk!” bentak Lee menghampiri Sammuel dengan sebuah tinju di pelipis. “bangsat!” teriak Lee.
            “hentikan Lee Coltrain!” teriak Mr. Banning murka. “jadi ini sebabnya kau sekolah di luar negeri? Karena negara ini ngeri akan mahasiswa seperti mu. Begitu?” tanya Mr. Banning dingin.
            “sialan kau anak buangan!” pekik Sammuel hampir meninju Lee yang lengah. Tapi Jouly melindungi Lee dan Jouly yang memar di hidung karena tinju. Darah dari hidung Jouly mengocor.
            “Jouly!” Lee berteriak dan mengangkat Jouly berdiri. Meletakkan Jouly pada Tania. Matanya tajam menatap sammuel si sombong. Ingat akan kesombongan sammuel ketika memamerkan sepatu-sepatunya, tas-tasnya, dan pakaian-pakaiannya yang bermerek. “ini untuk mu, keparat!”
            Telak. Sammuel kena telak, bibir sammuel berdarah karena di dorong Lee keras ke tanah.
            Mana Banning? Semuanya mengerubuti Lee dan sammuel yang sedang berduel. Ada yang berteriak, ada yang melerai tapi percuma. Lee menarik Sammuel berdiri, menarik kerahnya hingga kaki nya terangkat. Sebuah tinjuan mendarat di hidung Sammuel. Saat itu juga Mr. Banning datang di iringi Mr. Ryder.
            “sudah selesai anak-anak? Sekarang ikut aku!” perintah Mr. Ryder. Guru BK mereka. Lee melepas Sammuel dan berjalan bersama Jouly.
            Hampir dua jam Jouly, Sammuel dan Lee di ruang bimbingan konseling. Mr. Ryder terlihat berfikir keras. Dia orang yang tegas, itu nilai lebihnya. Dia guru bahasa Inggris yang kaku. Matanya masih memelototi Sammuel. Mr. Ryder tahu kalau ini bukan masalah besar, tapi sebentar lagi mereka akan lulus. Seharusnya meninggalkan kesan yang terhormat. Banning sedikit berdeham. Kepalanya menggeleng pelan. “baiklah, apa kalian mau aku panggilkan orang tua kalian masing-masing?” kata Banning membuat ketiganya terperangah.
            Sammuel berdiri. Dia tak mau orang tuanya marah, bagaimanapun ini masalah sepele. Lee saja yang berlebihan, fikir Sammuel. Dia melihat Jouly yang memar di hidungnya tapi tak mengeluarkan darah lagi. “saya mohon jangan Sir” kata Samm pelan. “kami akan berdamai, tadi hanya salah paham” jelas Sammuel.
            “oh, salah paham?” ledek Ryder. “jangan berkelit, aku tahu kalau kalian takut kan?”
            Jouly kini yang berdiri. Matanya menyipit. “kurasa kami memang salah paham Sir, jadi kami mohon, orang tua kami pasti akan tak terima. Lebih baik kalau orang tua tak tahu, dan ini kita anggap selesai” kata Jouly. Lee memperhatikan Jouly. Benar.
            “bagaimana dengan mu, nona Coltrain?” Ryder melihat Lee tajam.
            Tenggorokan Lee terasa kering. Andai dia bisa katakan tidak. Namun mustahil, siapa yang mau datang ke sini? Ke kota yang jauh dari kota Ayahnya dan kota Ibunya. “iya Sir” jawab Lee.
            Tak lama mereka bertiga keluar dari ruang BK. Mereka terkejut karena hampir seisi kelas menguping mereka. Tania yang paling di depan hampir jatuh saat Sammuel membuka pintu. Jouly menyeret Fellis dan Claire ke kantin. Lee dan Tania mengikuti mereka, duduk di salah satu meja kantin tempat biasa seven people.
            “kau tak cerita apa-apa kan ke Diana dan Shan?!” ancam Jouly pada Tania. Claire berdiri membeli lima botol tea bersoda.
            Tania cepat-cepat menggeleng. “tidak. Aku akan ambil kapas dan minta es batu. Hidung mu harus pulih, Shan dan Diana tak boleh tahu” tania berjalan ke UKS.
            Lee menggeleng pelan. Tidak pernah aku begini. “kita pulang saja” kata Lee. “Fellis, bisa kah kau atur anak-anak agar tak tahu kita membolos?”
            Fellis tersenyum. “sayangnya kita tak perlu membolos” Claire datang membawa botol-botol soda dingin. “ini minggu bebas” lanjut Fellis menyesap soda, mukanya merasakan ekspresi soda yang menggigit.
            “sini kau” kata Tania datang menyumpali hidung Jouly dengan es batu tebungkus handuk putih.
            “pelan-pelan” erang Jouly sedikit sakit. Lee merasa bersalah, kepalanya tertunduk. Dia mengambil soda miliknya.
            “aku tak tahu kalau kau melindungiku, Jouly. Aku minta maaf. Harusnya tadi ku tendang kepalanya” kata Lee datar. Jouly memukul meja geram.
            “sekali lagi kau n=bilang begitu, kita akan masuk BK lagi karena aku akan menghajar mu!” ledek Jouly. Semuanya tertawa terbahak-bahak. Lagi pula pukulan Sammuel itu hanya pukulan Bayi! Jadi, tenang saja Sob!”
            Lee meminum sodanya banyak-banyak. “ayo, sebaiknya kita pulang”
            Shan terlihat sibuk melayani pembeli. Semalam Tania telah membuat kue. Paginya Shan hanya mengantar pesanan seperti biasa dan Diana yang menjaga toko. Fellis dan Claire segera berganti pakaian dan bergabung dengan Tania membuat kue. Lee melihat mesin kasir yang mulai penuh dengan uang. Senin sore biasanya Lee dan Fellis pergi ke Bank untuk menyimpan uang. Rekening SevenPeople Bakery di atas namakan Fellis. Karena Fellis lah yang masih membuat rekening. Jouly membantu Shan di depan. Kue semakin sedikit saat memasuki sore hari.
            “dari tadi aku tak melihat Diana” Lee duduk di samping Shan yang kepanasan. Pelanggan tadi banyak sekali. Ini waktunya istirahat karena sebentar lagi akan tutup.
            “Diana keluar dengan Jo” jawab Shan. Dia melihat Jouly yang mendekat. “sudah sepi?”
            Jo? Lee lupa kan Jo. Sang dokter muda yang membuatnya jengkel kemarin. Tapi mengapa dia pergi dengan Diana? Apa jangan-jangan? Ah, tidak mungkin.
            Jouly mengangguk. Lee menepuk pundak Shan. “bukannya Jo hari ini praktik?”
            Shan tersenyum jail. Tumben sekali Lee begini. “yah, kerena dia akan praktik, Diana membantunya” gumam Shan. Dia mengambil kue dan melahapnya.
            “memangnya Diana bisa?” tanya Jouly datar.
            “entahlah, yang jelas Jo bilang padaku. Mungkin Diana butuh sedikit bantuan ketenangan”
            “ketenangan?” tanya Lee dan Jouly serempak.
            Shan tertawa. “kalian tak lupa kan, Jo itu dokter. Dia jadi dokter umum di Klinik West Sun, jadi mungkin Jo tahu apa yang terbaik untuk Diana” tutur Shan mantap.
            “memangnya Jo bilang Diana kenapa?”
            “Diana depresi” jawab Shan. Claire memanggil mereka dari kejauhan. Ini saatnya beres-beres dan tutup. Lee meninggalkan Jouly dan Shan yang menutup tirai-tirai. Dia berjalan ke kamar menuju meja Diana. Dia membuka laci Diana, entah kenapa. Tangannya meraih telepon seluler yang pasti milik Diana karena casenya berwarna kuning.
            Dua puluh tiga panggilan tek terjawab.
            Dari agustin? Kenapa?
            Lee mencatat nomor telepon Lee dan pergi.
            Hari menjelang malam. Saat itu semuanya sedang menonton film keluarga. Mereka mengemil kue buatan Tania. Jouly tertawa cekikikan saat tokoh yang ia kagumi terpeleset. Fellis bersandar di bahu Lee. Semuanya asik menonton. Lee melihat jam dinding. Mana Diana?
            Claire melihat Lee yang gelisah. Lalu berbisik pada Shan. Shan mengangguk perlahan. “kau menunggu siapa?” tanya Shan.
            Lee malu. Bagaimana pikirannya bisa terbaca dengan mudah. Sebenarnya mata Lee teruju pada televisi. Tapi hatinya terus bergumam apa yang Jo dan Diana lakukan sekarang. Astaga! Apa aku barusan memikirkan Jo?
            Jonnatan Antony.
            “tidak. Ummm, aku mau ke kamar” lee pergi ke kamar. Shan dan Jouly saling berpandangan heran, lalu kembali menonton.
            Lee berbaring di tempat tidurnya. Menatap langit-langit kamar. Aku harus kembali normal.
            Waktu menunjukan jam setengah enam sore. Suara deruman mesin mobil menggema. Diana turun dari mobil. Ternyata itu Jo dan Diana. Mereka berdua masuk rumah membawa dua kantung belanjaan. “kita akan memanggang ayam!” seru Diana riang. Jo ikut membantu ke dapur dan mengeluarkan panggangan ke halaman belakang. Shan memotong ayam menjadi bagian yang lebih kecil. Claire membuat bumbu. Diana mengolesi ayam dengan kecap manis. Jouly mulai mengipas. Fellis menyiapkan piring dan nasi.
            Semuanya telah matang. Asap sedap tercium ke hidung Lee yang tidur. Dia membuka pintu kamar dan menuju ruang nonton. Tapi tak ada siapa-siapa. Jo menghampiri Lee. Ekspresinya riang dan gugup ketika melihat Lee.
            “kau disini rupanya” kata Jo. Jo memakai kemeja lengan panjang yang digulung hingga ke siku. Rambutnya terlihat kusut. Tapi wajahnya tetap tampan.
            “ya. Aku bangun tidur. Kemana mereka? Kau juga sedang apa disini?”
            “aku mengajak teman-temanmu memanggang ayam. Mereka semua di belakang. Kau bergabunglah, aku mau memanggil Ibu ku untuk bergabung” kata Jo melintas.
            Semuanya telah menyiapkannya. Mereka memutuskan untuk makan di luar. Cuacanya bagus dengan binang yang berkelap-kelip dan Bulan yang terang.
            Mrs. Antony dan Jo bergabung. Jo kini memakai baju santai. T-shirt dan celana Jean di bawah lutut. Keren.
            “wah, sang juri datang!” kata Tania melihat Mrs. Antony. Mereka langsung makan di meja panjang di halaman belakang. Lee duduk di samping Diana. Diana sepertinya bahagia sekali.
            “bagaimana tadi di sekolah?” tanya Diana. “kapan pengumumannya?”
            Jouly yang menjawab. Takut Tania keceplosan. “ah, biasa saja. Mr. Banning bertanya kemana kita setelah lulus. Dia tadi menanyakan mu juga. Beasiswa kuliah seni di Prancis jadi kan?” tanya Jouly.
            Diana merunduk malu. Diana bukan orang yang sombong. Diana tak suka mengumbar kelebihan dan tak suka menghina. Itulah Diana.
            “benarkah? Kenapa kalian tak bilang pada ku?” mrs. Antony memuji Diana. Dia melihat ke arah Jo. “hebat sekali yah?” tanya Mrs. Antony pada Jo. Dan Jo mengangguk.
            “Diana, Jouly, Tania dan Lee akan ke luar negeri. Aku harap aku juga ke luar negeri tahun depan kalau berhasil” senyum terlihat di bibir Claire. “fellis akan kuiah manajemen Bisnis bersama Shan” lanjutnya.
            Mrs. Antony benar-benar bangga dan terus berkata wah. Hingga waktu menunjukan jam sembilan malam. Mrs. Antony dan Jo berpamitan pulang. Jo membiarkan ibunya pulang lebih dulu. Lalu mengajak Lee ngobrol berdua.
            “kau kenapa?”
            “kenapa? Aku baik-baik saja” kata Lee datar. Dia menghindari tatapan Jo yang membuatnya gugup.
            “kau dari tadi murung. Apa ada masalah? Kau bisa ceritakan pada ku kalau kau mau. Aku banyak belajar tentang psikologi. Mungkin aku bisa berikan saran”
            Saran. Lee tak butuh itu. Dia hanya ingin bilang kalau Jo membuatnya aneh. Memikirkan Jo membuat Lee tak bisa tenang. Tapi yang Lee lakukan hanya menggeleng. “bagaimana menurutmu Diana? Apa dia baik-baik saja?”
            “diana hanya sedang mencoba melupakan hari minggu kemarin. Katanya agustin dan Diana pergi ke suatu tempat favorit mereka berdua kemarin. Saat mereka sedang berduaan, seseorang menelpon Agustin” Jo menjelaskan. Lee tersenyum lemah, bahkan Jo lebih tahu cerita sebenarnya dari pada dirinya. Sahabatnya.
            “lalu apa masalahnya?” tanya Lee berjalan duduk di sofa. Jo duduk di samping Lee.
            “Blakely akhirnya pergi karena ada pertemuan mendadak dengan rekan bisnisnya. Dan kau tahu, Diana di suruh tunggu” Jo menerawang. “Diana wajar saja sedih, bagaimanapun itu hari istimewa, tapi malah Blakely lebih mengurusi bisnis” tutur Jo.
            “panggil Agustin, aku tak terlalu suka dengan kata Blakely” kata Lee mengerti cerita sebenarnya. “lalu kenapa Diana bersedih?”
            Jo tertawa sekarang. Wajahnya bahkan lebih tampan saat matanya terpejam. “ayolah Lee, seorang perempuan disuruh menunggu seharian di hari ulang tahun ke-3 selama berpacaran? Pasti rasanya sakit”
            Lee bergumam. Mengapa Jo begitu perhatian? Lee memaksa untuk tak terlalu tegang. Diana adalah sahabatnya, dia harus senang. Lee lagi-lagi mengernyit, berfikir keras untuk melupakan rasa cemburu bodohnya.
            Tunggu dulu.
            Cem?
            Buru?
            Tidak!!!
            ”kau murung terus” kata Jo. ”dari tadi aku memperhatikanmu waktu makan” lanjut Jo. Pipi Lee merona karena malu. Apa benar Jo memperhatikannya? Lee berusaha tetap tenang, Jo mungkin memperhatikannya, bukan berarti Jo menyukainya.
            Menyukai Lee?
            Apa Diana?
            ”aku bilang aku baik-baik saja!” kata Lee geram menyadari perasaannya. Ingin sekali bertanya apa perasaan Jo pada Diana. ”oh iya, terimakasih sudah membuat sahabatku membaik. Aku berhutang budi padamu” Lee tersenyum masam.
            Jo memasukkan tangannya ke saku. Dia sedikit menunduk. ”Diana orang yang menyenangkan” pujinya. Lee mengangguk sebal. Aku tau. ”dia tadi membantuku menenangkan anak-anak para Pasien. Karena dia, hari pertama praktikku tak terlalu terasa berat” lanjut Jo.
            ”yah, itulah Diana kami. Hebat dalam segala hal” kata Lee. Ingat Diana yang membantunya mengerjakan tugas melukis dari Mrs. Doris, waktu itu Diana sangat membantunya. Pelajaran  matematika, Diana juga selalu membuat guru kagum. Lee sayang pada Diana, seperti yang lainnya.
            ”besok kau masuk?” tanya Jo tiba-tiba. Alisnya sedikit terangkat.
            Lee tak menjawab. Lalu mengangguk perlahan. ”tapi mungkin pulang awal”
            ”oh. Kalau begitu, jam makan siang aku kesini” katanya tersenyum pergi.
            Seenaknya saja perintah-perintah. Tapi Lee tersenyum ke kamar.
            Sekolah ini benar-benar penat. Beberapa siswa SMP terlihat mengantre di Kantor Penerimaan siswa baru. Hari ini Diana masuk bersama kelima temannya yang lain. Mereka duduk-duduk di depan kelas sambil menonton anak lelaki bermain basket. Tiba-tiba Beatrice, Emily, Sephia, Holy, dan Hannia tiba-tiba bergabung dengan seven people yang sedang di bawah pohon dengan dahan rendah.
            ”hari ini panas ya?” kata Hannia duduk di sebelah Jouly.
            Jouly tersenyum. Lalu mengangguk. Dia sedang mengunyah coklat yang di bagikan Claire.
            Diana bersandar di bahu Tania. Beatrice berdiri dan segera duduk di samping Hannia. “sepertinya Sammuel sekarang jera”
            Diana menggeleng. “yah, memang begitu” kata Diana jengkel.
            ”untung kemarin kau tak masuk” kata Beatrice. Lee dan Jouly terperangah. Diana tak boleh tahu akan kejadian kemarin.
            ”memangnya kenapa?” tanya Diana. Jouly memelototi Beatrice untuk tutup mulut. Lee memperlihatkan wajah mengerikan padanya.
            “ummmm..yah tidak apa-apa” kata Beatrice. Dia menunduk, taktik agar Diana penasaran,
            ”oh iya, Shan pasti kewalahan. Lebih baik kita pulang saja” kata Tania mengubah topik. ”ayo semua” ajak Tania. Fellis berdiri, disusul Claire dan Jouly.
            ”aku tanya ada apa?!” bentak Diana tak senang omongannya dipotong.
            Semuanya terlihat tegang. ”Lee dan Jouly, kau tau kan? Mereka masuk BK?” mata Beatrice menipit penuh kemenangan. Senyumnya melebar saat Diana terlihat marah.
            ”oh, benarkah?” tanya Diana pada sahabat-sahabatnya yang pasti sudah tahu dan sengaja tutp mulut. Tania menunduk pelan. Takut. Lee membasahi tenggorokannya yang kering. Jouly melihat Beatrice dengan kesal. Fellis dan Claire hanya mengerjap, menghitung kapan Diana akan meledak.
            Semuanya menonton. Emily, Sephia, Holy, dan Hannia. Mereka ingin tau Diana akan marah seperti apa sekarang.
            “yah. Tentu saja” seru Beatrice tenang. Rasakan kalian!
            “oh..ku kira ada berita apa. Kalau hanya itu sih sepele” kata Diana mengejek. Sepele. Ingat akan masalah Beatrice dan Jouly waktu itu.
            Semuanya membelalak. Diana tak marah, malah mengejek Beatrice balik. Muka Beatrice merah padam menahan malu dan kesal karena dugaannya salah.
            “haha. Lebih baik kita pulang, terlalu banyak hal yang tak penting disini” kata Fellis saat sevenpeople pergi.
            Masih belum masuk jam makan siang. Diana duduk di dekat Fellis dan Shan di toko. Pelanggan mulai sepi. Tania datang dan bergabung sambil membawa majalah aneka kue. Claire sedang di kamar karena telepon dari pacarnya. Diana menggunting kuku yang mulai panjang.
            “siang ini kita makan apa?” tanya Shan mengambil majalah dari Tania.
            “kau yang masak” jawab Tania. “aku lelah”
            Fellis dan Diana tertawa. “mungkin kita ke restaurant di ujung jalan itu saja” kata Diana memutuskan. “katanya hari ini ada diskon, makanannya juga enak katanya. Bagaimana, setuju?”
            Mereka semua mengangguk dan mulai bersiap menutup toko. Claire keluar dari kamar dan melihat mereke. “mana Lee?” tanya Claire.
            “dia di kamar, mungkin tidur. Bangunkan dia, kita kan makan di luar, dia pasti marah kalau di tinggal” seru Fellis. Claire mengangguk dan pergi ke kamar.
            Sebuah BMW berhenti di depan toko. Ternyata Jo dengan jas putih serta Jean hitamnya. Dia terlihat sumringah. “hai. Kalian mau tutup?” tanya Jo.
            Shan mengangguk. “kau ada apa kemari?”. Diana menyuruh Jo duduk sementara Lee dan Claire keluar. Lee langsung merunduk malu. Jo geli melihatnya.
            “ah, aku mau keluar dengan Lee. Kami mau makan siang di luar. Tak apa-apa kan?”
            Fellis mencibir pelan. Diana atau Lee sih?. “kami juga mau makan di luar” kata Fellis melihat Diana. “bagaimana kalau kalian gabung dengan kami?”
            “umm? Terserah Lee kalau begitu” jawab Jo. Dia melihat ekspresi Lee yang berubah-ubah. Ayo Lee, katakan tidak mau
            “wah, ide yang bagus! Tak apa kan Jo? Aku ingin bersama mereka” jawab Lee. Ayo Jo, katakan tidak mau.
            “baiklah” Jo mengangguk. Lee, kau ini. Aku kan ingin berdua! “kalau begitu, siapa yang naik mobil dengan ku?”
            Claire menggeleng. “tak usah. Kita ke restaurant di ujung jalan saja” matanya melihat Shan yang siap. “dengan jalan kaki”
            Jo tersenyum. Lihatlah Lee, kau tak bisa buka dirimu sedikit saja apa?
            Semuanya sedang menyantap makan siang masing-masing. Kali ini Jo yang traktir, dia melirik arloji di tangan kanannya. Hatinya masih bimbang, coba aku saja yang bilang tidak, fikir Jo. Fellis tiba-tiba terkejut, ketika seseorang di sebelah kanan mereka adalah Agustin. Dia sedang bersama seorang wanita dewasa cantik. Mereka juga terlihat makan siang. Fellis mengerjap meyakinkan kalau itu benar-benar Agustin Blakely, dan itu benar. Fellis cepat-cepat menyikut Shan dan Tania. Diana sadar akan ekspresi wajah teman-temannya, lalu melihat ke arah kanan.
            ”brengsek!” umpat  Diana. Kakinya menendang kaki meja yang sebenarnya  kaki Shan. Tapi Diana tak menghiraukannya, dia berjalan ke arah Agustin sebelum Lee yang di sebelahnya mencegah. ”oh..kau begini rupanya” kata Diana melabrak mereka berdua.
            Jo dan sahabat-sahabat Lee mendekati mereka. Para pelayan terlihat gelisah melihat Diana yang marah-marah. Agustin terlihat bingung, dia menarik Diana keluar agar tak membuat keributan di dalam. Tapi Shan mencegah Agustin yang menarik lengan Diana. ”memalukan, sekarang jelaskan saja! Tak usah malu karena kau seorang pecundang!”
            ”apa maksudmu?” agustin menggeleng bingung. Diana menangis. ”aku yang harusnya bertanya mengapa hari minggu kemarin kau..”
            ”berhentilah berpura-pura bodoh!” bentak Diana melepas cengkraman Agustin. Diana melihat wanita berbalut gaun krem anggun dengan jas putih glamor.
            ”sudahlah, lebih baik kalian ajak Diana pergi” kata Jo memerintah Fellis yang memegangi Diana.
            Bibir agustin menipis. ”kau fikir kau siapa!” teriak Agustin. Apa ini teman lelaki Diana yang baru? ”Diana, aku mohon angkat teleponku. Aku sangat merindukanmu!” kata Agustin memohon. Wanita yang datang bersama Agustin berdiri dan tersenyum. Dia mengulurkan tangannya pada Diana.
            ”kenalkan, aku Ashley Blakely” ashley tersenyum ramah. ”adik tiri Agustin” lanjutnya menjabat tangan Diana.
            Apa?
            Diana hanya bisa diam.
            Jo dan sevenpeople pun diam setengah mati.
            ”salah faham hebat bukan?” tanya Agustin manis pada Diana akhirnya. Diana di tariknya maju hingga entah bagaimana kini Diana telah berada di dekapamn Agustin.
            “yah, mungkin kita makan siang lain kali. Aku harus pergi, salam buat Ibu mu” kata Ashley berjalan keluar. Tania masih tak mempercayai apa yang dilihatnya sekarang. ”sampai nanti” kata Ashley pergi dengan gontai.
            ”ummmmmmm, begini” kata Claire. ”apa kita bisa lanjutkan makan? Dan supaya pelayan-pelayan itu tak jadi khawatir, juga kita tak diusir dari restoran ini?”
            mereka akhirnya makan bersama di meja yang tadi. Agustin dan Diana masih saling tersenyum. Diana pasti sangat bahagia. Lee menatap Jo yang selalu melirik arlojinya. Kasihan Jo, mungkin hatinya sedih karena Agustin dan Diana membaik.
            Jo memanggil pelayan untuk membayar bon. Agustin mengeluarkan dompetnya dan berniat membayar juga. ”tak usah” tolak Jo. Mungkin masih ingat kejadian barusan, melihat Agustin yang hendak menghajar Jo.
            Semuanya pulang kecuali Diana dan Agustin. Mereka pergi dan ingin bicara. Jo masih diam saat berjalan ke toko. Kenapa dia?
            ”baiklah, aku harus kembali ke klinik. Sampai ketemu nanti” kata Jo pergi dengan mobilnya. Lee tampak bingung. Shan menepuk pundak Lee pelan.
            Mereka duduk di ruang televisi. Tania mengulurkan tangan dan menyetel televisi. Shan masih tersenyum. ”kau kenapa? Aneh sekali dari tadi” kata Lee menatap mukanya. ”ha?” tanya Lee lagi.
            ”entah kenapa aku ini” Shan menggeleng pelan. ”oh iya, aku mau tidur siang dulu” Shan pergi. Mereka saling berpandangan. Shan kenapa?
            Fellis masih membersihkan lantai sementara Lee membersihkan meja-meja dan beberapa perabotan dan hiasan yang berdebu. Dave, kekasih Claire datang dengan motornya, Claire dan Dave langsung pergi saat itu. Tania membawa ember dan tongkat pel, hari ini dia yang akan mengepel. Diana belum pulang, mungkin masih bersenang-senang dengan Agustin.